PONCOKUSUMO – Ritual akhir dari Hari Raya Karo adalah Sadranan. Ritual yang bertujuan untuk memulangkan roh leluhur. Dimana pada 15 hari sebelumnya, diundang turut serta merayakan Hari Raya Karo pada ritual Ping Pitu.

Pra acara diawali pada pukul 10.00 WIB dengan pembacaan doa oleh dua dukun adat yang ada. Biasa disebut sedekah pangonan.

Setelahnya, setiap keluarga datang berbondong-bondong mendatangi TPU (Tempat Pemakamam Umum) Desa Ngadas dengan membawa rantang berisi makanan serta tikar.

Kemudian, pukul 11.00 WIB dukun adat Desa Ngadas didampingi kepala desa serta jajarannya datang turun ke tempat pemakaman untuk melaksanan ritual. Diringi musik dan tiga ekor kuda poni yang sudah dihias., acara dibuka dengan sambutan dari perangkat desa. Mulai dari Camat, Kepala Desa, juga Kepala Dinas Pariwisa dan Kebudayaan Kabupaten Malang Made Arya Wedanthara.

Puncak ritual adat Sanggrahan, adalah makan bersama di makam kerabat yang telah meninggal. Setelah pembacaan doa kedua yang dipimpin oleh seorang dukun adat di atas panggung.

Setiap keluarga berbagi makanan dari rantang yang mereka bawa, duduk beralas tikar di sekeliling makam, tak terkecuali ibu dan anak kecil. Saat itu, suasana sangat padat. Satu makam bisa dikelilingi empat orang atau bahkan lebih banyak lagi.

Apabila satu keluarga ada dua orang atau lebih yang dimakamkan di tempat yang sama, maka anggota keluarga yang hadir harus dibagi rata berdasarkan jumlah kerabat yang dimakamkan.

Upacara Sanggrahan usai sekitar pukul 13.30 WIB. Warga Desa Ngadas kembali berhamburan menuju rumah masing-masing untuk menjamu tamu maupun kerabat yang datang. Sembari menunggu penutup acara Hari Raya Karo diselenggarakan, yakni ujung-ujungan.

Pewarta : Feni Yusnia
Penyunting: Lizya Oktavia
Foto : Firhad Rinaldy