”Ada uang Abang disayang, tak ada uang Abang ditendang”, tulisan yang terpampang di bak truk yang melintas di Jalan Tumenggung Suryo itu sepertinya pantas disematkan kepada Markucel, 47, warga Kecamatan Sukun. Ketika masih bergelimang rupiah, istrinya, Markonah, 45, warga Kecamatan Kedungkandang, itu selalu menyayangi Markucel. Tapi, setelah tidak memiliki uang, dia ditendang istri yang sudah dinikahinya belasan tahun lalu.

Mulanya, pernikahan pasangan suami istri (pasutri) ini bermula ketika mereka bertemu di Jakarta. Markucel bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Gajinya pun besar sehingga Markucel mampu hidup mewah.



Markonah yang kala itu teman satu kantor pun kepincut dengan Markucel. Keduanya melangsungkan pernikahan pada 1993. Pernikahan mereka dikaruniai dua anak yang lucu-lucu. Setelah kedua anaknya beranjak dewasa, Markucel diminta ibunya untuk pulang ke kampungnya di Kota Malang.

Bagai disambar geledek, Markucel kaget. Sebab jika pulang ke Kota Malang, karirnya akan habis karena dia harus resign. Gaji besar yang biasanya dinikmati setiap awal bulan, juga harus dia relakan.

Tapi, Markucel tidak berani menolak permintaan orang tuanya. Akhirnya, Markucel memberanikan pamit ke istrinya. Markucel mencari pekerjaan baru di Malang sambil merawat orang tuanya, sedangkan Markonah tinggal di Jakarta bersama anaknya. Beberapa bulan kemudian, Markucel khawatir istrinya selingkuh karena GPRS (gak pernah rasakan sentuhan) darinya. Berbagai upaya dilakukan untuk mengajak Markonah tinggal di Malang.

Rupanya selama tinggal di Malang bersama Markonah, Markucel malah tersiksa. Setiap hari mendengar omelah Markonah. Bahkan, sering kali tidak dapat jatah jika pulang kerja tidak membawa uang.

Merasa tidak dihargai, Markucel akhirnya nekat mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang. ”Mau bagaimana lagi, saya nggak kuat. Masak diusir gara-gara tidak bawa uang,” kata Markucel saat ditemui usai mengurus surat cerai di kantor PA Kota Malang beberapa hari lalu.

Pewarta: Rino Hayyu
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Grafis: Andhi Wira