MALANG KOTA – Industri rokok pada akhirnya memang tidak punya pilihan selain melaksanakan regulasi baru terkait tarif cukai yang sudah ditetapkan pemerintah. Namun, di sisi lain, mereka berharap pemerintah juga tegas memberantas praktik dumping dan peredaran rokok ilegal.

Seperti diketahui, kenaikan tarif cukai berlaku efektif mulai 1 Januari 2018 mendatang. Acuannya adalah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 146/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau. Penerapan tarif itu memang memunculkan ketakutan bahwa peredaran rokok ilegal bakal semakin marak. ”Di samping peredaran rokok ilegal, praktik dumping yang dilakukan golongan PR (pabrik rokok) besar akan merusak pasar golongan II,” ujarnya.

Mengacu pada ketentuan baru, yakni PMK 146/2017, maka transaksi pasar tidak boleh lebih rendah 85% batas harga jual eceran (HJE). ”Namun, praktik yang terjadi saat ini ada PR SKM (sigaret kretek mesin) yang menjual lebih rendah 85% dari HJE,” ungkapnya.

HJE bagi PR SKM besar yakni 18.900 per bungkus. Tapi, di lapangan, mereka bisa saja menjual dengan harga Rp 13.000 per bungkus. PR bisa saja berdalih tengah menggelar program promosi. ”PR yang melakukan hal itu berarti seperti predator, menghabisi pesaing di bawahnya dengan melakukan dumping. Dari situ, kami berharap pemerintah bisa benar-benar melakukan pengawasan. Jangan sampai ada kamuflase penjualan berkedok promosi dari PR besar,” ujar dia.

Dengan berlakunya PMK 146/2017, maka praktik dumping tersebut dilarang. PR yang melanggar akan dikenai sanksi berupa penurunan tingkat oleh kantor bea cukai.

Terkait peredaran ilegal, Andriono menyatakan, langkah pemerintah sudah bagus dengan mengurangi peredarannya secara bertahap. Yakni, di tahun 2016 12,1% menjadi 10,9% di tahun 2017. Kemudian, jadi 6% tahun 2018, dan 3% di tahun 2019.

Andriono berharap adanya tindakan nyata yang dilakukan guna mematikan peredaran rokok ilegal. ”Langsung ke pabrikannya, agar peredaran tidak semakin marak,” pungkasnya.

Pewarta: nr8
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Bayu Eka

Source link