Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, Zubaidah.

MALANG KOTA – Kualitas guru di Kota Malang dinilai masih perlu ditingkatkan. Oleh karenanya, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang diminta mengalokasikan anggaran yang besar untuk meningkatkan kompetensi guru.

Apalagi, tahun 2019 mendatang, disdik kemungkinan besar akan mendapatkan anggaran Rp 208 miliar. Anggaran ini sudah tercatat dalam Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD 2019 yang kini dibahas di DPRD Kota Malang.

Plt Wakil Ketua DPRD Kota Malang Choeroel Anwar menyatakan, salah satu cara agar meningkatkan kualitas guru adalah mengirimkan guru untuk belajar ke daerah yang lebih maju atau ke luar negeri. ”Guru ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Jadi harus ditingkatkan terus kompetensinya, salah satunya ya mengirim ke luar negeri,” kata politikus Partai Golkar ini.

Menurut dia, Kota Malang juga dikenal sebagai Kota Pendidikan. Sehingga, sudah sewajarnya jika kualitas pendidikan menjadi prioritas. ”Pendidikan itu salah satu ikon Kota Malang,” ucap dia.

Tak hanya itu, soal anggaran yang besarnya diperkirakan mencapai Rp 208 miliar, dana sebesar itu juga digunakan untuk rehabilitasi sekolah. Total 35 sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang bakal direhab tahun depan. ”Kalau sekolah yang direhab ada sekitar 35 sekolah,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Zubaidah menyatakan, pihaknya akan terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk guru. Namun, khusus untuk ke luar negeri, hal itu masih belum bisa dilakukan. ”Karena anggarannya nggak bisa untuk itu,” ungkap mantan kadinsos Kota Malang ini. Menurut dia, ada surat edaran yang melarang guru untuk studi banding ke luar negeri dengan menggunakan uang negara.

Meski tidak bisa mengirim ke luar negeri, kualitas guru terus dipacu. Salah satunya dengan sistem digitalisasi di sekolah. ”Guru nanti bisa fokus mengajar. Karena pengurusan administrasinya lebih efisien,” ujarnya.

Selama ini, perlu tidaknya guru studi banding ke luar negeri memang menuai perdebatan. Bagi yang kontra, hal tersebut bisa dianggap sebagai pemborosan. Sedangkan bagi yang pro, mengirim guru ke luar negeri sangat dibutuhkan untuk membuka wawasan para guru.

Sebelumnya, Ketua Komisi Pendidikan PPI Dunia Fadlan Muzakki menyatakan, dari hasil survei, 90 persen responden menyatakan, studi banding ke luar negeri untuk para guru perlu dilakukan. Dengan studi banding ini, diharapkan guru bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan mereka.

Pewarta: Imam Nasrodin
Editor: Amalia
Penyunting: Kholid Amrullah