MALANG KOTA – Bagaimana nasib proyek monorel setelah Wali Kota Malang Moch. Anton menghapus program pengembangan transportasi terpadu di dalam misinya? Padahal, salah satu wujud pengembangan transportasi terpadu adalah pembangunan monorel. Sementara monorel dibutuhkan karena digadang-gadang bisa mengurai kemacetan yang makin parah di Kota Malang. Monorel, proyek ilusi ataukah solusi?

Seperti diberitakan, Anton memangkas misinya yang tertuang dalam draf Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013–2018. Awalnya ada sembilan poin dalam misi itu.

Pada poin sembilan disebutkan, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang ingin mengembangkan sistem transportasi terpadu dan infrastruktur yang nyaman. Namun, berdasarkan hasil perubahan RPJMD, pengembangan sistem transportasi terpadu dihapus. Padahal, misi itu yang menjadi acuan Anton dalam membangun Kota Malang.

Wali Kota Malang Moch. Anton menyatakan, pihaknya tetap berkomitmen mewujudkan rencana pembangunan proyek monorel. Dia mengakui, poin pengembangan transportasi terpadu tidak tercantum dalam misi RPJMD. Namun, tercantum di poin lainnya.

”Tidak dihilangkan. Tercantum, tapi di tujuan RPJDM,” ujar Anton kemarin (13/11).

Wali kota yang juga ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Malang itu menyatakan, rencana pembangunan monorel masih dalam proses pra-feasibility study (FS atau studi kelayakan). Pemkot sudah menggandeng PT Indonesia Transit Center (ITC) sebagai investornya.

Keseriusan Anton mewujudkan proyek monorel karena mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak. Apalagi, DPRD Kota Malang terus mendesak pemkot menanggulangi kemacetan. ”Kami mengupayakan penanggulangan masalah kemacetan. Salah satunya ya melalui proyek monorel itu,” katanya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI terkait rencana pembangunan monorel. Dari hasil koordinasinya, Anton menyatakan, Kemenhub mendukung penuh.

”Karena anggarannya terlalu besar, diperlukan investor yang mengerjakannya,” kata bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Malang selama dua periode tersebut.

Pewarta: Aris Syaiful
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Dwi Lindawati
Grafis: Andhi Wira