MALANG KOTA – See ability, not disability. Lihatlah kemampuannya, jangan melihat keterbatasannya. Jargon inilah yang didengungkan Musyawarah Kerja Guru Pembimbing Khusus (MKGPK) dalam melihat potensi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Kota Malang.

Kemarin (15/4) di Museum Brawijaya, sekitar 20 kelompok penampil membawakan sejumlah pertunjukan kesenian. Di antaranya, seni tari, seni musik, albanjari, dan lain-lain.

Setiap kelompok terdiri dari 2–5 siswa. Semuanya adalah siswa ABK. Ada yang autis, down syndrome, tunagrahita, tunawicara, low vision, dan lain-lain.

Meski mempunyai sedikit keterbatasan, para penampil itu berlenggak-lenggok dengan lincahnya. Tidak ada guratan malu di wajah para penampil.

”Kami ingin terus mewadahi bakat anak-anak di bidang kesenian dengan suasana kekeluargaan,” ucap Ketua MKGPK Hadi Purnomo SSpsi SPd kemarin.

Dalam acara sederhana itu, menurut dia, hadir juga 400 murid ABK dari jenjang SD–SMK. Menurut Hadi, para murid sangat antusias dan sempat berebut kuota untuk tampil.

”Tujuannya selain menjadi wadah, anak-anak bisa mengaktualisasikan dirinya di dalam bidang seni,” imbuhnya.

Menurut dia, selama ini bakat seni anak-anak ABK sangat tinggi, cukup menjanjikan, dan tidak kalah dengan anak-anak lainnya. Malahan, hampir setengah dari jumlah murid ABK selalu antusias dengan acara seni yang bisa dibilang masih minim lombanya di Kota Malang.

”Anak-anak ini sangat percaya diri dengan dirinya sendiri dan kemampuan mereka, ini yang perlu kami apresiasi,” tambah pria yang sekaligus tim pengembangan inklusi Provinsi Jawa Timur ini.

”Acara itu juga suksesi khitanan masal yang kami adakan 20 Maret lalu dengan RSI Aisyiyah,” jelasnya.

Menurut dia, mengapa acara ini dijadikan satu dengan khitanan masal, untuk menjawab masalah para orang tua ABK yang kesusahan mengkhitankan putranya.

”Mereka juga terus mengucapkan terima kasih atas usaha kami mengadakan acara ini,” tambah ayah dua anak tersebut.

Kepala Seksi Peserta Didik dan Kurikulum Bidang Pembinaan SD Dyah Kristiana W. SPd mengaku sangat berterima kasih bagi para guru MKGPK karena terus membantu secara total para murid ABK.

”Saya sangat senang ada acara ini, kami terus bersinergi dengan MKGPK untuk terus mengembangkan kemampuan para murid dalam bidang kesenian,” jelasnya.

Dedik Junaidi, salah satu orang tua yang anaknya menderita autis, mengaku ikut senang melihat putranya menikmati acara itu. Meskipun bukan penampil, Junaidi sudah lega putranya bisa mengerti bakat seni sama pentingnya dengan pelajaran di sekolah.

”Saya berharap, pentas seni ini terus berlanjut di tahun berikutnya. Semoga yang tampil ya bisa giliran,” ujarnya.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Sandra Desi