Alat tersebut terlihat begitu kokoh dengan rangka bajanya. Alat yang dinamakan Ki Pesat (Kipas Pemanggang Sate) tersebut terbuat dari limbah meja mesin jahit. Pedal besar yang terhubung dengan roda besar di bawah meja itu kini tak lagi tersambung dengan mesin penjahit, tapi sudah diganti menjadi kipas yang bisa berputar ketika pedal mulai diayunkan.

Jika dilihat lebih saksama, meja jahit tersebut telah diganti dengan kayu yang telah dilapisi pelat besi agar tidak mudah terbakar jika terkena bara api saat dipakai memanggang sate. Sedangkan di meja itu, ada sebuah tatakan (alas) pemanggang sate dan sebuah kipas yang digerakkan dengan pedal di bawah meja.

Ya, itulah Ki Pesat, pemanggang sate yang didesain kakak beradik yang merupakan siswa SD Al Ya’lu, Aang dan Ahada. Karena temuannya itu, mereka dianugerahi penghargaan sebagai Peneliti Cilik Terunggul Tingkat Nasional dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award 2017 pada 14 Oktober. Mereka berhasil menyingkirkan sekitar 1.103 tim dari 26 provinsi se-Indonesia.

Boleh dibilang yang melatarbelakangi munculnya ide tentang pemanggang sate itu adalah karena rasa lapar. Itu semua berawal ketika mereka bosan menunggu antrean panjang saat memesan sate di kantin sekolah. ”Di sekolah ini ada penyaji sate, tapi prosesnya begitu lama,” ungkap Aang.

Sebelumnya, sekolah mereka telah melaksanakan program full day school (FDS). Jadi untuk makan siangnya, mau tidak mau harus di kantin sekolah karena sudah masuk dalam kurikulum. Untuk bisa makan sate yang menjadi menu favorit siswa-siswi di sekolah yang terletak di daerah Arjosari itu, mereka harus antre panjang dulu.

”Proses membuatnya (memanggang sate) juga lama,” ucap bocah kelahiran 16 Juni 2005 tersebut.

Maklum, menurut dia, penyaji sate yang memanggang di kantin sekolah itu masih menggunakan kipas manual. Padahal, siswa-siswi dari SD tersebut berjumlah 200-an orang. Apalagi penyaji sate juga harus melayani siswa-siswi TK dan SMP yang masih dalam satu kompleks.

”Maka kami mencari cara agar lebih cepat menyajikan satenya,” terang bocah berusia 12 tahun tersebut.

Tentu saja, dalam praktik membuat alat itu tidak langsung berjalan dengan mulus. ”Kami sempat dua kali mengalami kegagalan,” timpal Aang. Dia menjelaskan jika kegagalan tersebut karena pulley (katrol) yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Selain itu, kegagalan kedua disebabkan tali yang menjadi penghubung antara roda mesin jahit dan kipas terlalu tebal. Jadi, saat diayun terasa berat.

Menurut putra pertama dari tiga bersaudara itu, besar atau kecilnya tali penarik yang mengitari roda pemutar dan kipas sangat berpengaruh pada energi yang dibutuhkan untuk memutar. ”Kalau terlalu tebal, mengayunnya terasa berat,” imbuh putra dari pasangan Asbi dan Laiha tersebut.

Sementara itu, inovator cilik yang lainnya, Ahada juga berpendapat hal yang hampir serupa. Dia juga menilai jika jumlah penyaji sate tidak sebanding dengan banyaknya pemesan. ”Selain itu, asapnya juga ke mana-mana,” terang bocah kelahiran 30 Juni 2007 ini.

Karena itu, Aang dan Ahada mencoba memadukan ide mereka. Jadi, terciptalah ide membuat Ki Pesat atau Kipas Pemanggang Sate itu. Sebagai siswa di sekolah penyandang gelar Adiwiyata, tentu mereka juga berusaha membuat alat yang hemat energi.

”Awalnya kami melihat tante kami sedang menjahit,” terang bocah berusia 10 tahun tersebut.

Dia mengungkapkan jika saat itulah ide tersebut muncul. Yaitu, pedal yang diayun, tapi bisa menggerakkan mekanisme mesin jahit yang ada di atasnya. ”Sepertinya itu praktis, seperti mainan,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut guru pembina siswa SD Al Ya’lu Wiyanto, memang proses membuatnya tidaklah mudah. Hal tersebut disebabkan mereka masih terlalu kecil untuk pengerjaan alatnya. Karena itu, untuk masalah teknisnya, mereka dibantu seorang guru pembina dan tukang.

”Untuk pemotongan lempengan besi yang sulit itu diserahkan kepada tukang,” kata Wiyanto.

Dia mengungkapkan jika alat temuan anak didiknya tersebut bisa mempersingkat pembuatan sate dari yang sebelumnya 4 jam untuk 200 siswa, kini hanya membutuhkan 2 jam.

”Jadi, alat ini lebih efisien. Selain itu, lebih hemat energi,” tambah guru berusia 44 tahun tersebut. Dikatakan hemat energi karena alat itu sama sekali tidak bergantung pada energi listrik dan hanya menggunakan energi kinetik (gerak).

Melihat ide yang memiliki potensi tersebut, pihak sekolah mendukung dan mengikutkan mereka di ajang kompetisi Kalbe Junior Scientist Award 2017. ”Kami melakukan persiapan mulai Mei lalu. Lantas, bulan Juli kami harus mengirim dokumen untuk mengikuti lomba,” imbuh bapak empat anak tersebut.

Untuk persiapan yang dilakukan sekolah yaitu pembuatan video dan kelengkapan dokumen. Dari seribu lebih tim yang mendaftar, akhirnya dipilih 18 finalis yang diundang Kalbe Farma ke Pasar Seni, Ancol, Jakarta, 10–15 Oktober 2017.

Di sana, Aang dan Ahada mempresentasikan alat mereka di hadapan lima juri dari kalangan peneliti serta akademisi. Yaitu, dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebanyak 2 orang, Institut Teknologi Bandung (ITB) 1 orang, Universitas Indonesia (UI) 1 orang, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud RI).

Ada dua kategori yang diperebutkan dalam ajang itu, yaitu Karya Terbaik dan Karya Terunggul. Sedangkan mereka meraih juara pada kategori Karya Terunggul sehingga mereka dinobatkan sebagai Peneliti Cilik Terunggul pada 14 Oktober lalu. Berkat prestasi tersebut, mereka memperoleh sertifikat, medali, dan hadiah uang pembinaan sebesar Rp 10 juta.

Pewarta: Gigih Mazda
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: SD Al Ya’lu