Jika Markonah, 60, warga Kecamatan Sukun, Kota Malang, ini memegang teguh filosofi Jawa, yakni bibit, bebet, dan bobot, barangkali masalah itu tidak akan terjadi. Selama 45 tahun berumah tangga, perempuan yang kesehariannya menjadi pembantu rumah tangga (PRT) itu baru menyadari jika suaminya”palsu”.

Padahal, mereka sudah ber-hohohihe puluhan tahun. Barangkali setiap hari Markonah memberi servis memuaskan bagi Markucel, 63, warga Kecamatan Lowokwaru. Menu STMJ (siap tempur malam Jumat) menjadi suguhan utama di atas ranjang. Bahkan, hubungan mereka sudah menghasilkan lima buah hati.

Terbongkarnya ”suami palsu” itu berawal dari pengurusan paspornya pada pertengahan Januari 2018. Paspor itu dibutuhkan untuk persyaratan keberangkatannya ke luar negeri. Saat menyerahkan persyaratan pengurusan paspor, misalnya kartu keluarga (KK), surat nikah, dan KTP, petugas menemukan kejanggalan.

Nama suami yang tercantum di surat nikah berbeda dengan yang tertera di KK. Tempat tanggal lahir suaminya juga keliru sehingga petugas imigrasi menolaknya. Tapi, kesalahan itu sebatas administrasi. Sedangkan objek hukumnya tetap. Suami Markonah yang dimaksud tetaplah Markucel, warga Kecamatan Lowokwaru.

Mungkin orang tua zaman dulu tidak terlalu memperhatikan administrasinya sehingga asal menulis nama. Meski sebatas kesalahan administrasi, surat permohonan pengurusan paspor milik Markonah tidak bisa dilayani.

Demi mendapatkan paspor, Markonah mengajukan permohonan ke Pengadilan Agama (PA) Kota Malang beberapa hari lalu. Isinya, meminta pengadilan mengizinkan pembentulan nama Markucel. ”Kalau tidak mengurus paspor, mungkin saya tidak tahu kalau nama suami yang tertulis di buku nikah itu salah,” kata Markonah di kantor PA Kota Malang beberapa hari lalu. (nr1/c2/dan)